Jumat, 26 Agustus 2016

AKU ANAK JUJUR

Pada saat saya SMA kelas XI sedang melaksanakan Ujian Akhir Semester, saya duduk sebangku dengan anak kelas X di bangku barisan kelima atau terakhir dan diawasi oleh dua orang pengawas pada masing-masing ruangan ujian, saya biasa mengerjakan soal essay terlebih dahulu karena dianggap perlu pemikiran yang lebih ekstra dalam mendeskripsikan kata-kata menjadi sebuah kalimat yang saya anggap benar karena sekolah menerapkan sistem anti plagiarisme dalam setiap ujian.

Ketika saya selesai mengerjakan soal essay, saya membalikan LJK (Lembar Jawaban Komputer) untuk mengerjakan soal pilihan ganda, seketika teman saya yang berada didepan bangku saya mendengar suara kertas yang dibalikan tadi dengan mengatakan “ssst... nomor 3 !!!”, saya hanya tersenyum tanpa menjawab dan tetap fokus mengerjakan soal pilihan ganda.

Ketika mengerjakan pilihan ganda saya biasa menandai dulu jawabannya di lembar kertas soal karena saya menganggap ketika jawaban sudah didapat, untuk menulis jawaban di LJK itu adalah hal yang sangat mudah dan tidak menguras waktu yang lama dibanding memikirkan jawaban yang dianggap benar dan mengantisipasi apabila ada teman yang ingin mencontek.

Selanjutnya sekitar 15 menitan menuju waktu habis, teman sebangku saya mengangkat tangan dan mengatakan “Bu, yang didepan nyontek !!! (sambil menunjuk orangnya)”, satu orang pengawas langsung menghampiri dan mengambil LJK yang nyontek tersebut serta membawa siswa ke ruangan BP (Bimbingan dan Penyuluhan) atau yang sekarang dikenal dengan BK (Bimbingan dan Konseling).

Keadaan di ruangan ujian sedikit agak ribut karena kaget dan tidak lama setelah kejadian itu teman saya yang ada di bangku pertama melemparkan sebuah kertas yang dilipat-lipat kecil bertuliskan “nomor 6, 7, 9, 12, 15, 22, 25, dan 27 apa ? (membantu yang lagi kesusahan itu dapat pahala dari Allah)”; tulisnya. Saya hanya tersenyum ketika ada yang sampai segitunya dalam usaha untuk mengerjakan soal padahal orang yang melempar kertas itu adalah rankingnya di atas saya.

Ketika waktunya sudah habis dan semua LJK dikumpulkan kemudian langsung istirahat 10 menit, saya berbincang-bincang dengan teman yang tadi melempari kertas dan mengatakan “membantu sesama dalam keadaan kesusahan mungkin akan dapat pahala tapi jika saya memberikan jawaban tadi secara tidak langsung mungkin saya akan dapat dosa juga karena telah membantumu membohongi guru, sejak kecil saya selalu dibimbing untuk jadi orang jujur oleh kedua orang tua, saya memiliki prinsip mengerjakan segala sesuatu dengan serius dan jujur maka hasilnya akan terasa lebih berfaedah”.

Aku anak jujur, ketika memberi sebuah contekan maka secara tidak langsung akan menjerumuskan pada kebohongan yang dapat merugikan diri sendiri dan berdampak pada hal-hal lain dikehidupan yang lainnya.