Pada saat saya SMA kelas XI
sedang melaksanakan Ujian Akhir Semester, saya duduk sebangku dengan anak kelas
X di bangku barisan kelima atau terakhir dan diawasi oleh dua orang pengawas
pada masing-masing ruangan ujian, saya biasa mengerjakan soal essay terlebih
dahulu karena dianggap perlu pemikiran yang lebih ekstra dalam mendeskripsikan
kata-kata menjadi sebuah kalimat yang saya anggap benar karena sekolah
menerapkan sistem anti plagiarisme dalam setiap ujian.
Ketika saya selesai mengerjakan
soal essay, saya membalikan LJK (Lembar Jawaban Komputer) untuk mengerjakan soal
pilihan ganda, seketika teman saya yang berada didepan bangku saya mendengar
suara kertas yang dibalikan tadi dengan mengatakan “ssst... nomor 3 !!!”, saya
hanya tersenyum tanpa menjawab dan tetap fokus mengerjakan soal pilihan ganda.
Ketika mengerjakan pilihan ganda
saya biasa menandai dulu jawabannya di lembar kertas soal karena saya
menganggap ketika jawaban sudah didapat, untuk menulis jawaban di LJK itu
adalah hal yang sangat mudah dan tidak menguras waktu yang lama dibanding
memikirkan jawaban yang dianggap benar dan mengantisipasi apabila ada teman
yang ingin mencontek.
Selanjutnya sekitar 15 menitan
menuju waktu habis, teman sebangku saya mengangkat tangan dan mengatakan “Bu,
yang didepan nyontek !!! (sambil menunjuk orangnya)”, satu orang pengawas
langsung menghampiri dan mengambil LJK yang nyontek tersebut serta membawa
siswa ke ruangan BP (Bimbingan dan Penyuluhan) atau yang sekarang dikenal dengan
BK (Bimbingan dan Konseling).
Keadaan di ruangan ujian sedikit
agak ribut karena kaget dan tidak lama setelah kejadian itu teman saya yang ada
di bangku pertama melemparkan sebuah kertas yang dilipat-lipat kecil
bertuliskan “nomor 6, 7, 9, 12, 15, 22, 25, dan 27 apa ? (membantu yang lagi
kesusahan itu dapat pahala dari Allah)”;
tulisnya. Saya hanya tersenyum ketika ada yang sampai segitunya dalam usaha
untuk mengerjakan soal padahal orang yang melempar kertas itu adalah rankingnya
di atas saya.
Ketika waktunya sudah habis dan
semua LJK dikumpulkan kemudian langsung istirahat 10 menit, saya
berbincang-bincang dengan teman yang tadi melempari kertas dan mengatakan “membantu
sesama dalam keadaan kesusahan mungkin akan dapat pahala tapi jika saya
memberikan jawaban tadi secara tidak langsung mungkin saya akan dapat dosa juga
karena telah membantumu membohongi guru, sejak kecil saya selalu dibimbing
untuk jadi orang jujur oleh kedua orang tua, saya memiliki prinsip mengerjakan
segala sesuatu dengan serius dan jujur maka hasilnya akan terasa lebih
berfaedah”.
Aku anak jujur, ketika memberi
sebuah contekan maka secara tidak langsung akan menjerumuskan pada kebohongan
yang dapat merugikan diri sendiri dan berdampak pada hal-hal lain dikehidupan
yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar